Si Anak Indigo. Rizqi mempunyai seorang teman yang mengaku dia indigo atau mampu berafiliasi dengan hantu, jin atau setan. Perempuan yang bernama Monea ini, umumdiundang Miss atau akronim dari misterius.
Walau begitu, Rizqi masih tidak percaya dengan kemampuan yang dimiliki Monea. Monea atau Miss itu mengaku memiliki sobat mistik bernama Nini. Rizqi tidak mengambil langkah-langkah sih, tetapi sahabatnya, Faris yang ingin tau dan sungguh meragukan Monea.
“Faris, kamu ngapain, sih?” tanya Rizqi dikala melihat Faris mengintip-intip dari taman sekolah.
“Sst… aku lagi memperhatikan Miss,” jawab Faris pelan.
“Ya ampun, kau ini. Ayo temani aku ke kantin dulu!” pinta Rizqi.
Faris tak bergeming.
“Aku traktir deh…,” bujuk Rizqi.
Rizqi menyaksikan ke tempat Faris semula. Kok tidak ada orang. Ternyata Faris sudah berada di depannya.
“Ayo Rizqi! Tunggu terlebih?” ungkapnya tetap melangkah mantap.
“Heh… giliran ditraktir saja, pribadi menjelma kereta cepat. Faris… Faris…,” kata Rizqi menggelengkan kepalanya.
Baca: Kegiatan wirausaha sekolah
Rizqi berbelanja segelas es teh anggun, dan soto ayam yang baru matang. Faris membeli gorengan, dan es teh juga.
“Rizqi… kau tau tidak?” tanya Faris mengambil gelas es teh nya.
“Hm?” Rizqi mendongakkan kepalanya. Lalu meneguk es tehnya.
“Monea itu, tidak memiliki sobat mistik, saya ragu beliau anak indigo atau bukan,” ujar Faris.
Sontak, itu membuat Rizqi menyemburkan tehnya ke sebelah kirinya.
“Kenapa begitu?” tanya Rizqi mengelap mulutnya.
“Ia cuma ingin terlihat andal dengan kemampuan indigonya. Yang bahwasanya juga artifisial. Monea mengada-ada kemampuannya, dan sobat gaib nya itu,” jelas Faris pelan.
“Dari mana kau tau ia bukan anak indigo?” tanya Rizqi memiringkan kepalanya.
Baca: Hacker sekolah
“Tentu, dong. Ibuku dan ibu Monea sungguh akrab. Saat saya baru pindah kesini, ibuku berbicara pada ibunya Monea. Karena, ibu Monea yaitu pengelola registrasi murid baru.” Faris menawan nafas. “Saat itu, saya mendengarkan percakapan doa ibu itu, sampai saya bosan. Lalu saya menyaksikan-lihat ke dalam dan berjumpa dengan Monea yang sedang melamun di taman. Ia menangis sembari mengusap bulu yang ada di tangannya. Aku mendekatinya…” Faris menceritakan era lalunya.
“Kamu siapa?” tanya Faris.
“Aku… Monea,” ujar Monea aib-aib.
“Kenapa kamu menangis?” Faris mengajukan pertanyaan lagi.
“Aku sungguh rindu sahabatku yang paling berharga di dunia ini,” jawab Monea mengusap sebuah foto bergambar anak wanita.
“Dia wanita yang elok. Siapa namanya? Kenapa kau merindukannya?” galau Faris.
“Ya, ia memang wanita yang manis dan baik. Namanya Nini. Dia satu-satunya sahabat terbaik yang kupunya. Dan kini, saya pindah ke kota ini dan bersekolah di sini, sehingga saya tidak bisa bertemu dengannya,” terang Monea meneteskan air mata.
“Kasihan sekali. Kenapa kau tidak menghubunginya lewat ponsel?” ajakan Faris.
“Aku senantiasa berusaha menghubunginya, namun… tampaknya, Nini telah pindah keluar negeri, nomornya tidak aktif,” jawab Monea.
“Bagaimana kamu bisa tau bila Nini pindah ke mancanegara?” tanya Faris.
“Dia orang kaya. Ia telah 14 kali pindah sekolah di banyak sekali negara. Ayahnya mempunyai perusahaan yang banyak di beberapa negara. Makara, dia mesti berputar-putar negara setiap tahun, bulan sampai pekan.”
Faris dan Monea terdiam sejenak.
“Kenapa… kau tidak berkenalan dengan anak di sekolah ini? Pasti banyak yang akan berteman denganmu. Kau pasti tidak akan kesepian,” saran Faris.
“Tidak ada yang ingin berteman denganku. Aku anak polos. Sudah 3 tahun ini aku di-bully oleh sekumpulan anak perempuan yang tidak ku kenal. Mereka menyakitiku secara membisu-membisu. Aku tidak berani mengadu pada guru, bila saya mengadu, mereka akan mengeluarkan ku dari sekolah. Karena salah satu dari mereka, ibunya adalah pemilik sekolah ini,” terang Monea panjang.
“Aku ingin membantumu, tapi…,” ujar Faris merasa simpati.
“Tiba-tiba, ibuku memanggilku, dan kesannya aku tidak bisa berbincang-bincang dengannya lebih usang lagi.” Faris mengakhiri cerita nya.
“Aku tidak tau bila Monea yaitu korban pembullyan. Padahal aku sekelas dengannya,” kata Rizqi menyeruput es tehnya.
“Ya. Karena itu, dia berpura-pura menjadi indigo agar banyak yang perhatian padanya. Kasihan kan?” kata Faris memutar-mutar jarinya si meja.
“Walau begitu, tetap saja itu dilarang. Berbohong pada banyak orang.” “Kaprikornus kamu mengamatinya alasannya takut Monea dibully lagi?” Rizqi memperjelas.
“Bukan takut. Monea memang masih dibully. Cinta, Naya, dan Lala ialah pembully-nya,” ujar Faris.
“Begitu, ya… Baik. Sekarang, peran kita ialah… menolong Monea!” seru Rizqi bersemangat.
“Benar! Itu yang kuinginkan!” seru Faris juga. “Tapi, aku habiskan gorengan ini dulu, ya,” kata Faris mengambil gorengannya.
Setelah makan, Rizqi memanggil sahabat-teman nya yang sedang berada di kantin dan menceritakan seluruhnya dibantu dengan saksi mata, ialah Faris. Teman-sahabat nya sontak sama terkejutnya dengan Rizqi. Mereka semua oke akan menolong Monea.
Baca: Masalah sosial di lingkungan sekolah
Mereka akan dibagi menjadi 3 kalangan. Kelompok pertama bertugas mengobrol dengan Monea, Faris masuk ke kalangan ini. Kelompok kedua, bertugas menginterogasi dan melaporkan 3 pembully itu pada guru. Rizqi ada di golongan ini. Kelompok ketiga, bertugas menjelaskan pada teman-sahabat kelas 5 untuk ikut menolong dan menjelaskan pada anak lain.
Di kawasan golongan pertama…
Akhirnya Monea mengaku bahwa dia berbohong dan menerangkan semuanya ihwal pembullyan yang dijalankan padanya.
Di lokasi golongan kedua…
Para pembully itu malah mengancam para anak yang menginterogasi mereka bertiga. Setengah golongan itu, melaporkan dan mengajak kepala sekolah dan kepala sekolah melaporkannya ke pemilik sekolah atau ibunya Cinta. Dan akibatnya semua belakang layar mereka terbongkar dan mereka menerima eksekusi.
Di kalangan ketiga…
Banyak yang oke dengan aksi membantu Monea. Mereka menerangkan secara baik-baik kalau Monea berbohong, dan menerangkan jikalau Monea menjadi korban pembullyan. Banyak juga yang kasihan dan merasa bersalah alasannya tak mau berteman dengan Monea dulu.
Sekarang, Monea memiliki banyak sekali sahabat, tanpa mesti berpura-pura jadi anak indigo. Dan dia berjanji tidak akan berbohong lagi. Senang rasanya mempunyai banyak sobat tanpa memerlukan kebohongan. Itu yang diungkapkan Monea saat mempunyai banyak sahabat.
Jadi, pesan moralnya yaitu…
Kita tidak butuhkebohongan. Teman yang baik yaitu sobat yang mampu menerima kita tanpa menatap kelemahan, atau fisik kita. Dan, kita tak perlu takut atau menyembunyikan pembully dari orang lain. Karena membully yaitu hal yang tidak baik.
Baca:
– Penyebab dan dampak bullying
– Manfaat hidup rukun di sekolah
Dan satu lagi, ketika sobat kita sedang butuh derma atau punya dilema, telah seharusnya kita membantunya.
Tanpa pembullyan… dunia ini pasti akan tenteram. Stop bullying! Terima kasih telah membaca dongeng Si Anak Indigo dan membagikannya.
Sumber ty.com
EmoticonEmoticon